Dua tahun lalu, gue ngalamin hal yang mungkin sering banget kamu rasain. Tanggal 25 udah cek saldo sambil deg-degan, tanggal 28 udah mulai ngutang ke temen buat makan siang, dan tanggal 1 udah lega karena gajian. Tapi tanggal 10? Saldo kembali ke angka yang bikin nangis. Gaji gue waktu itu sekitar 7 juta, dan jujur aja, gue ngerasa kayak orang kaya di tanggal 1 sampai 5, terus jadi orang susah di tanggal 6 sampai 30.
Sampai satu hari, gue sadar ada yang salah. Bukan karena gaji gue kecil. Tapi karena gue nggak pernah tahu ke mana uang gue pergi. Serius, gue bisa habis 500 ribu cuma buat kopi dan jajan siang selama seminggu tanpa sadar.
Baca juga: Gaji Masih Utuh Tapi Dompet Kering? Sebulan Pakai Cara Ini Beres
Kopi 25 Ribu yang Bikin Gue Bangkrut
Ini bukan lebay. Gue dulu tipe orang yang tiap pagi mampir ke coffee shop sebelum masuk kantor. Satu cup 25 ribu, kadang tambah croissant 20 ribu. Kalau dihitung, sehari bisa 45 ribu. Dikali 22 hari kerja, itu 990 ribu sebulan. Hampir satu juta rupiah cuma buat kopi dan pastry.
Yang bikin makin sedih, gue nggak pernah ngerasa itu pengeluaran besar. Soalnya keluar 25 ribu tuh kecil banget di dompet. Nggak kerasa. Tapi begitu gue jumlahin sebulan, gue pengen nangis di depan mesin ATM.
Untuk topik 18TOTO - Cara Verifikasi Akun Pragmatic Play Terbaru Agar Transaksi Lancar Tanpa Kendala, baca ulasan lengkapnya di sini.
Uang kecil yang keluar tiap hari itu jauh lebih bahaya daripada uang besar yang keluar sekali sebulan. Karena yang kecil nggak pernah kita hitung.
Sejak itu, gue mulai nyatet semua pengeluaran. Bukan pakai aplikasi mahal atau spreadsheet ribet. Cukup pakai notes di HP. Setiap habis beli sesuatu, langsung catat. Nggak peduli 5 ribu atau 500 ribu.
Tiga Kolom yang Mengubah Cara Gue Lihat Uang
Setelah sebulan nyatet, gue mulai ngelompokkin pengeluaran gue ke tiga kolom besar. Ini yang akhirnya bikin gue ngerti ke mana uang gue pergi.
Baca Juga: Cari permainan pilihanmu dan kenali cara mainnya!
Informasi selengkapnya bisa dibaca di 18TOTO.
1. Pengeluaran Wajib
Ini yang nggak bisa ditawar. Kos, transport, makan pokok, tagihan listrik, kuota internet, cicilan kalau ada. Buat gue waktu itu, totalnya sekitar 3,5 juta. Ini yang pertama gue sisihkan begitu gajian masuk. Bukan yang terakhir. Ini poin penting yang dulu gue salah banget.
Dulu gue selalu bayar semua ini di akhir bulan, setelah uang gue dipakai jajan. Hasilnya? Sering telat bayar kos dan harus ngutang. Sekarang, begitu gajian, langsung transfer ke rekening terpisah buat pengeluaran wajib. Sisa yang ada di rekening utama itu baru boleh dipakai.
2. Pengeluaran Fleksibel
Ini kolom yang isinya kopi, jajan, nonton, nongkrong, beli baju, dan segala hal yang sebenernya bisa dikurangi. Gue kasih budget 1,5 juta sebulan. Kalau habis, ya habis. Nggak ada tambahan. Awalnya nyiksa banget, tapi lama-lama jadi kebiasaan.
Untuk topik 18TOTO - Cara Verifikasi Akun Pragmatic Play Terbaru Agar Transaksi Lancar Tanpa Kendala, baca ulasan lengkapnya di sini.
Yang menarik, gue jadi lebih pilih-pilih. Dulu gue beli kopi karena refleks. Sekarang gue mikir dulu, "Ini worth it nggak?" Kadang jawabannya iya, kadang enggak. Dan gue ngerasa lebih puas karena setiap pengeluaran itu keputusan sadar, bukan kebiasaan.
3. Tabungan dan Dana Darurat
Ini yang paling sering dikorbankan orang. Dulu gue juga gitu. "Nanti aja nabung kalau sisa." Masalahnya, sisa itu nggak pernah ada. Sekarang gue balik logikanya. Nabung dulu di awal, baru sisanya dipakai.
Gue sisihkan minimal 1 juta tiap bulan. Kadang lebih kalau ada bonus atau lembur. Uang ini masuk ke rekening yang nggak ada kartu ATM-nya. Jadi gue harus datang ke bank kalau mau ambil. Ribet, dan itu tujuannya.
Hal-Hal Kecil yang Ternyata Berdampak Besar
Selain tiga kolom di atas, ada beberapa kebiasaan kecil yang gue ubah dan hasilnya lumayan banget.
- Bawa bekal dari rumah. Ini ngirit 15-20 ribu sehari. Sebulan bisa hemat 400 ribu lebih. Dan lebih sehat juga sih, jujur.
- Pakai transportasi umum kalau memungkinkan. Gue dulu selalu naik ojek online. Sekarang campur-campur. Hemat 300 ribu sebulan.
- Unfollow akun yang bikin pengen beli. Kedengeran sepele, tapi efeknya nyata. Gue jadi nggak lihat barang yang sebenernya nggak gue butuhin.
- Tunggu 3 hari sebelum beli barang di atas 300 ribu. Kalau setelah 3 hari masih pengen, baru beli. Delapan dari sepuluh kali, gue lupa dan nggak jadi beli.
- Matikan notifikasi e-commerce. Flash sale, diskon 12.12, semua itu bikin gue belanja hal yang nggak direncanakan.
Kalau ditotal, semua penghematan kecil ini bisa nyampe 1,5 juta sampai 2 juta sebulan. Angka yang lumayan banget buat pekerja kantoran dengan gaji pas-pasan.
Yang Gue Pelajari Setelah Dua Tahun
Pertama, mengatur pengeluaran itu bukan soal pelit. Ini soal sadar. Sadar bahwa setiap rupiah yang keluar itu hasil dari waktu dan tenaga yang kita jual ke kantor. Kalau gue beliin kopi 25 ribu tanpa mikir, itu artinya gue udah kerja satu jam cuma buat minuman yang habis dalam 15 menit.
Kedua, nggak ada yang namanya "terlalu kecil buat dicatat". Justru yang kecil-kecil itu yang paling sering bikin bocor. Rp 10.000 sehari itu Rp 3,65 juta setahun. Coba pikir, apa yang bisa kamu lakuin dengan uang segitu?
Ketiga, dan ini yang paling penting, mengatur pengeluaran itu bukan project sekali jadi. Ini kebiasaan yang harus dibangun terus. Ada bulan di mana gue gagal total. Ada bulan di mana gue belanja berlebihan dan ngerusak semua rencana. Tapi gue nggak berhenti. Gue mulai lagi bulan berikutnya.
Gue bukan ahli keuangan. Gue cuma pekerja kantoran biasa yang capek lihat gaji numpang lewat. Tapi dua tahun ini gue belajar bahwa perubahan besar itu dimulai dari hal-hal kecil yang kita lakukan konsisten. Nggak perlu nunggu gaji naik. Nggak perlu nunggu punya penghasilan tambahan. Mulai aja dari nyatet pengeluaran hari ini. Besok. Lusa. Sampai jadi kebiasaan.
Kalau gue bisa, kamu juga bisa. Dan percaya deh, begitu kamu tahu ke mana uangmu pergi, kamu bakal ngerasa jauh lebih tenang. Bukan karena uangnya banyak, tapi karena kamu yang pegang kendali, bukan sebaliknya.